Selasa, 12 Agustus 2008

JunkFood!?!

Hampir semua orang pasti menyukai makanan-makanan enak sejenis Soft Drink, Permen, Pizza, Burger, Fried Chicken, Ice Cream, Potato Chips, dan lain-lain. Sebagian besar orang pasti juga tau kalau itu adalah makanan junkfood alias makanan rongsokan. Dan hampir semua dari mereka juga tahu mengapa makanan-makanan tersebut disebut “sampah” yakni karena tidak baek untuk kesehatan. Namun sebagian kecil mungkin tidak mengetahui mengapa makanan tersebut tidak baek bagi kesehatan.
Singkatnya, sebenarnya makanan yang disebut junkfood adalah makanan yang memiliki kandungan nutrisi terbatas (aneh lah…ga seimbang…).Kandungan garam, lemak, dan kalori TINGGI. Tetapi, kandungan gizi (protein, vitamin, mineral, dll) RENDAH.
Junkfood mengandung terlalu banyak LEMAK terutama lemak jenuh (saturated fat) yang dapat meningkatkan radikal bebas, memicu penyakit degeneratif dan penuaan, menyebabkan kegemukan atau obesitas, penyakit jantung, kanker dll.
Junkfood mengandung terlalu banyak GARAM alias NaCl. Konsumsi sodium ini tidak boleh terlalu banyak karena konsumsi sodium berlebih dapat menyebabkan tekanan darah.
Junkfood juga meliputi makanan yang mengandung terlalu banyak gula. Sebenarnya, kebutuhan gula < 4 gram (satu sendok teh) sehari. Kelebihan konsumsi gula bisa menyebabkan diabetes, kerusakan gigi, obesitas, dll. Salah satu junkfood adalah softdrink, karena mengkonsumsi 1 kaleng soft drink sama dengan 9 sendok teh gula.
Selain itu, junkfood mengandung zat-zat lain yang tidak baik bagi kesehatan seperti kafein dan zat adiktif lain.
Mengenai efek junkfood terhadap kesehatan seperti yang udah dijelasin singkat diatas pasti temen2 udah pada tau. Sekarang, kita juga harus melihat akibat konsumsi junkfood yang laen. Konsumsi junkfood juga berefek pada global warming. Produksi fastfood/junkfood merupakan penghasil sampah terbesar di dunia. Junkfood yang terbuat dari hasil ternak seperti daging sapi, dan lain-lain merupakan salah satu penyebab global warming. Sektor peternakan bisa menghasilkan emisi yang besar banget karena hewan ternak adalah polutan metana yang bner2 signifikan. Udah gitu limbah kotorannya mengandung NO. Seekor sapi seberat 1100 pound aja dapat memproduksi 14,6 ton kotoran setiap tahunnya dan emisi yang diakibatkan 10 mobil Toyota Prius.
Selain itu, makanan-makanan junkfood kan termasuk makanan yang cukup mewah dan mahal. Jadi, dengan menghindari konsumsi junkfood kita juga bisa menghemat keuangan. Mulai sekarang kita harus berusaha untuk mengurangi konsumsi junkfood dan mencoba menjadi vegetarian demi kesehatan kita, bumi kita tercinta, dan demii……keuangan kita…hehehe…(saya juga gak bisa sih, tapi tidak ada salahnya berusaha buat mengurangi…just mengurangi….)
*ditulis dengan bahasa rada’ awam soalnya ini dari bahan presentasi waktu sesi praktek training SGPC (Scophians Goes To Public) yang dibuat ndadak,hehee….plus plus beberapa tambahan…

Seni berbicara bisnis VS kedokteran??

Beberapa hari yang lalu saya iseng2 mengerjakan tes personality di internet. Ternyata hasinya verbal/linguistik paling rendah diantara inteligensi2 yang lain…hasil tes seperti itu memang jelas nggak valid, apalagi waktu ngerjakan juga kadang nggak tahu arti vocabny sih (staun di FK mematikan kemampuan berhitung dan berbahasa asing…hhh)…Tapi kalo dipikir2 bener juga sih…ya bgini ini, saya nggak terlalu pinter ngomong dan nulis… terus skarang mulai pengen berubah sedikit demi sedikit, menumbuhkan minat baca biar tambah pengetahuan dan menambah bahan pembicaraan..trus nyoba2 membuat blog dan nulis kayak gini…
Buku pertama yang saya temukan untuk dibaca judulnya Seni Berbicara (Larry King). Buku ini punya si “eyang”, yang sudah lama banget saya pinjam, saya bawa ksana kmari2 tapi blum dibaca… Saya baca bab tentang pembicaraan bisnis. Saya lumayan tertarik dengan hal- hal yang berbau enterpreneurship. Biar gak lupa bgitu aja alias lewat kepala tapi tidak bisa menimbulkan potensial aksi dan menjadi long term memory (ahh sudahlah,saya nggak pinter masalah saraf2 gini, maklum nilai blok 1.5 ga gitu bagus…), saya tulis aja singkatnya..Ternyata ada beberapa hal penting dalam komunikasi bisnis yang serupa dengan kompetensi dokter.
Prinsip pertama dalam pembicaraan bisnis itu langsung, terbuka, dan jadi pendengar yang baik…Prinsip ini juga dokter banget kan?!? Terbuka kepada pasien dan slalu jadi pendengar yang baek… Active listening…
Yang kedua, jika kita bicara dalam lingkungan profesi yang sama, kita bisa mengasumsikan bahwa orang yang kita Ajak bicara ngerti istilah-istilah kita, jadi kita bisa pake bahasa-bahasa teknis..Tapi kalau kita bicara dengan orang di luar profesi/bidang kita, ya kita harus memakai bahasa awam yang dimengerti…Nah prinsip ini juga dokter banget, nggak mungkin kan kita bicara ke pasien pakai istilah – istilah medis, masa’ mau bilang ‘jantung’ ke pasien pakai istilah ’cor/cardia’, mau bilang ‘hati’ aja pake ‘hepar’ dll…hehehe…sebisa mungkin kita pakai bahasa yang sama dengan pasien, kalo sama simbah-simbah ya pakai bahasa yang sopan misal Jawa krama (Ampun dah, saya juga nggak pinter basa krama)…Nah, yang trakhir itu, Time is money…Waktu adalah uang..Jadi jangan sia-siakan waktu orang yang kita ajak bicara, jangan ngomongg terus nggak henti2 soalnya ini bisa membuat partner bisnis kita jadi gelisah. Kayaknya “waktu adalah uang” nggak berlaku di dunia medis ya??kecuali buat para dokter yang “mata duitan” (naudzubillahimindzalik… moga2 besok kita nggak kayak gitu ya.. inget “altruisme,duty,excellence,dll”…).. Kalo di kedokteran berlaku juga sih, tapi diganti “waktu adalah nyawa”… huaaa,ngeri amat ya… terlambat 1 detik aja, nyawa orang bisa melayang…pasien yang udah kesakitan mah jangan diajak ngobrol mlulu…jangan dianamnesis terus…hehehe…

Setaun di FK...

Tidak terasa udah staun kuliah di Pendidikan Dokter UGM..Sudah bertumpuk2 keluh kesah, tapi banyak juga kebahagiaan. Dulu pas awal2, seneng banget bisa ktrima. Masuk blok 1 masih lumayan seneng, tapi pas mulai praktikum anatomi sempet down juga. seabrek yang musti diapalin. ngerii,apalagi pas mau tentamen. rasanya sudah hampir putus asa dan selalu kepikiran kalau taun depan pengen ikut UM lagi, pindah ke teknik (maklum, sebenernya suka hal2 yang berbau teknik kayak kimia, elektro,informatika, dll.. waktu SMA nilai biologi slalu di bawah yang laen sih…).. Tapi stelah melalui tentamen pertama, ternyata saya merasa kalo sbenernya nggak seberat yang kurasakan sbelumnya.. Trus pas ujian blok, smakin saya merasa kalo sbenernya kalo kuliah disini nggak sberat yang saya bayangkan.. Beberapa blok terlalui..Alhamdulillah, smester 1 mendapat ip bagus…Tapi setelah bertemu dengan blok 1.5 (saraf,endokrin,indera), mulai lagi deh.. anatomi serasa berat sekali (buanyaakkk banget bahan), pas ujian blok juga berantakan..kurang persiapan, nggak pernah belajar, kebanyakan kegiatan di organisasi.. alhasil, dapatnya A/B deh… wah,bayangan ipk 4 sirna sudah…
Masuk ke blok 1.6, bloknya nyantai banget, banyak seneng2, materinya juga sosial banget. Bisa jalan2 ke rumah sakit,puskesmas,ikut dokter praktek. Tapi ternyata ujiannya lumayan susah juga blok abstrak banget sih… Soal ujian yang melibatkan subyektivitas juga, mengingatkankan saya pada ujian2 PKN ‘n bahasa Indonesia…hihihi, ya moga2 saja bisa dapet nilai bagus…
Nah, habis itu tibalah pada puncak kehancuran, OSCE tiba…Ujian yang paling ditakuti mahasiswa FK, apalagi di taunku ini OSCEnya setaun skali ‘n materinya seabrek. Karena saya saking sibuknya (males sih lebih tepatnya) sampe2 saya gak pernah ikut latian mandiri Skills Lab. Nah, akhirnya saya merasakan akibatnya OSCE-saya berantakan. oohh, tidak, sepertinya ada station yang nggak lulus pula… cukup membuat saya down,walaupun nilainya cuma sedikit sks kalau dibandingkan nilai blok. Waktu di suatu station, residennya galak banget dan saya dimarah-marahin terus… untuk kedua kalinya saya merasakan bagaimana senioritas di dunia medis ini setelah sebelumnya saya pernah dimarah-marahi koas pas saya becanda sama Bayu dan Alfi. Pengalaman yang bner2 membuat saya merasakan betapa kejamnya dunia kedokteran. Semua ini membuat saya kembali sangsi menjalani kehidupan di Fakultas Kedokteran, apalagi setelah denger2 cerita dan ngliat kesibukan, sengsaranya, serta capeknya “eyang” menjalani kehidupan koasnya. Huaaa, saya merasa seperti salah masuk fakultas… Fakultas ini membutuhkan kekuatan fisik, hati, kekuatan mental, kekuatan pikiran, kekuatan ingatan juga. Udah gitu lulusnya lama banget. Stelah lulus harus PTT alias internship dulu. Kapan saya bisa bekerja, mapan, punya uang sendiri, dan nggak nyusahin ortu terus. Kapan saya bisa membahagiakan keluargaku. Coba kalau di Fakultas lain, paling kurang lebih 4 tahun dah lulus, trus kerja.
Tapi life must go on, apa yang Allah berikan harus disyukuri dan terus berusaha untuk menjalaninya dengan baik. Saya harus berusaha lulus cepat dengan nilai bagus dan jadi dokter yang hebat dan baik yang nggak cuma mengejar materi tapi juga mengabdi pada masyarakat. Insya Allah..
Tetapi di FK juga ada happy-nya kok. I love organisasi. SCOPH CIMSA, MSC, AMSA smuanya menyenangkan… BEM juga amat-amat menyenangkan karena disini saya menemukan hal-hal yang istimewa. Keluarga baru “bocah2 lugu yang mulai gila uang”, semangat berwirausaha, rumah baru, teman2 baru, kakak2 baru. Kesibukan ini sebenernya membuat nilai turun, tapi ini berarti saya harus lebih rajin dan memanajemen waktu dengan baek.